Jumat, 30 Desember 2016

Ibarat Gayung Bersambut

Sore ini gue sedang mendapat pencerahan mengenai ungkapan "Gayung Bersambut". Ketika mencintai seseorang, gayung bersambut berarti cinta yang berbalas. Ketika menjalin pertemanan, gayung bersambut berarti doi juga mau berteman dengan lo, jadi doi nggak akan ngomongin lo di belakang. Hehehe dan ketika bokap atau nyokap lo menyuruh lo melakukan sesuatu untuk bantu beliau di rumah, gayung bersambut berarti lo menyahuti mereka dengan bilang, "Oke bu/pak/dad/mom/pi/mi, siap laksanakan!!" Begitulah arti sederhana dari ungkapan gayung bersambut. Ya Tuhan, sederhana aja ada tiga contoh, gimana versi komplikasi nya? Hehehe, ya, kamu betul, ada banyak contoh dan implemennya dalam kehidupan nyata. :D

Karena gue sekarang sudah bekerja, gue akan banyak membicarakan implementasi ke dalam dunia kerja. Disimak dengan baik ya :)



Kalau ada yang bilang dunia kerja itu keras, betul. Gue baru merasakan itu sekarang, setidaknya setelah enam bulan gue bekerja. Kerasnya bukan berarti lo di-bully kayak kasus anak sekolah, tapi keras akan tuntutan pekerjaan. Kalau pandangan lo ketika bekerja adalah berhenti belajar, LO SALAH BESAR. Nggak hanya salahnya yang besar, tulisannya juga besar :p
Justru ketika lo kerja, lo harus banyak belajar, bedanya dengan sekolah, implementasi yang lo pelajari entah kapan, tetapi ketika lo bekerja, implementasinya bisa langsung lo lakukan. Harusnya sih lebih seru, karena lo nggak akan lupa dengan langsung melakukan penerapan apa yang lo pelajari ke pekerjaan lo, tapi mengapa lo malas untuk belajar ketika lo sudah bekerja? Hayo ngaku...
Put, jadi apa hubungannya dengan Gayung Bersambut tuh satu paragraf di atas??


Hubungannya adalahhhh, belajar itu nggak harus dari lo yang mengikuti kelas seminar, dll (di mana ada guru dan ada murid). Tapi bisa juga dengan diskusi atau ada orang yang lebih tahu dan memberi tahu orang yang belum tahu. Wkwkwk jangan bingung ya?
Belajar tuh, sesederhana ituuuu.... Dan ketika lo ada di posisi orang yang belum tahu, lo terapkan lah prinsip Gayung Bersambut seperti yang sudah kita bahas dari awal, jangan memberikan sikap penolakan lo malas untuk belajar seperti yang gue paparkan di paragraf kedua. Paham ya?
Tapi gimana nerapin gayung bersambutnya, Put?
Bisa dengan lo yang memberikan jawaban dengan nada yang ceria, "Oh, begitu ya Mas/Mbak, oke deh, siap, makasih ya, Mas/Mbak. Iya nih aku belum tahu, aku kira begini/begitu, ternyata bukan ya. Oke deh, nanti aku terapin yang barusan Mas/Mbak kasih."
Bukan malah sebaliknya, ngasih sikap acuh. -_-


Ibarat gayung bersambut, tapi disambut baik lho yaa mindset-nya, lo pasti bahagia kan kalau cinta lo diberikan respon seperti itu, karena ternyata nggak hanya lo yang suka dengan doi, tapi doi juga suka sama lo... Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan, Parjo? :p
Ibarat Gayung Bersambut, ketika lo minta tolong sama orang, dan orang tersebut dengan suka rela mau menolong lo, lo pasti akan sangat berterima kasih kepada orang tersebut, lo nggak akan pernah melupakan kebaikan dia... :))
Ibarat Gayung Bersambut, atasan lo atau orang yang berdiskusi dengan lo pasti senang dan akan sangat menghargai lo apabila lo memberikan respon "welcome" dengan apa yang mereka sampaikan. Lo juga akan diberikan kepercayaan lebih dari orang tersebut, dan efek jangka panjangnya panjang banget, lebih panjang dari kemacetan di Jakarta :))


Gimana, positif banget kan gayung bersambut? Sesederhana itu... Ya, semua yang lo lakukan, efeknya juga akan kembali ke lo kan? Kalau kamu mau membahagiakan orang lain, cukup wujudkan ungkapan "gayung bersambut". Semoga kamu diberikan kebahagiaan yang sangat amat membahagiakan ya dari Tuhan. Aamiin. Ciao!

Jumat, 23 Desember 2016

"Sayang" Aja Nggak Cukup...

Pernah nggak sih lo melakukan sesuatu yang enggak ada dasarnya? Kayak yaudah gue emang pingin aja melakukan hal itu dan basic-nya cuma satu, "SUKA". Yup, dan itu yang gue lakukan sekarang di kehidupan nyata gue, apa tuh? Gue suka menulis, menurut gue, gue bisa mengungkapkan apa aja lho yang gue mau atau gue pikirkan, dengan menulis. Gue lebih bisa menyampaikan dengan jeli, terstruktur, dan gue pikir orang lain lebih bisa mengerti berkomunikasi dengan gue melalui tulisan. :)
Ya, nggak gue pungkiri, terkadang gue juga masih menulis "Gimana ya? Ya pokoknya gitu deh..." yang artinya gue masih belum bisa menggambarkan dengan kata-kata atau belum menemukan kata-kata yang pas dalam menggambarkan kondisi tersebut, hehe tapi itu gue anggap nggak masalah kok, asal apply tulisannya dikondisikan dengan keadaan. Contooooh, nggak mungkin kan lo lagi buat tulisan yang bersifat informatif tapi lo pakai kalimat seperti yang gue cetak super gede kayak di atas...

Sebetulnya nggak ada yang salah dengan lo yang memiliki dasar rasa "SUKA" dengan apa yang lo lakukan kayak yang gue bahas di paragraf atas, tapi ternyata suka aja nggak cukup. :( Misalnya, buat kaum pria di luar sanahhh (sengaja huruf h-nya banyak biar efek dramatisirnya lebih kerasa hahahhh), kamu suka dengan wanita ajahhh itu nggak cukuphhh, kamu harus memikirkan gimana caranya kamu bisa melamar doi, ngomong sama orang tuanya doi, cari modal nikah, dll (inget umur mas, jangan sibuk dengan karir, ayo disegerakan wkwk). Nah gitu, gue sebagai seorang Content Writer, yang awalnya cuma hobby nge-blog asal-asalan yang alhamdulillah ada aja reader setianya wkwkwk, ternyata nggak cukup. Gue masih harus lho upgrade ilmu dengan cara ikut seminar-seminar, masuk-masuk ke grup/komunitas menulis, dan melatih menulis (yes, offcourse ini masih harus selalu dilakukan meski kerjaan lo adalah menulis). Ini tuntutan dari atasan gue sih :( Hihi
Gue pikir dengan sering baca artikel aja itu udah cukup, TERNYATA ENGGAKKKKK
Ibarat makanan, lo tuh butuh penyedap sedikiiittt aja selain garam. Ibarat kue cucur, lo tuh butuh dikemas dan dikasih label cantik biar layak dikasih harga Rp 2000,00 per biji (kalau mau lebih dari 2000 juga nggak papa kok, asal yang beli merasa worth aja dengan harga yang lo tawarkan, misalnya lo kasih keju atau melted coklat di dalamnya. IH SUMPAH KOK ENAK YA KAYAKNYA?? :O) Kenapa harus kue cucur? Nggak papahhh, pingin aja, biar kue cucur terkenal wk :p

Iyaaa, okeyyy, gue sadar betul akan tantangan yang harus gue hadapi ini, gue akan sungguh-sungguh kok melakukan tuntutan pekerjaan gue, tapi... sedihnya adalah gue bingung kalau ke mana-mana sendiri, ya Tuhan tolong kirimkan aku seseorang hahaha. Ya Allah sedih banget gue sih :( Minimal ada lah yang nemenin berangkat meski pulangnya sendiri, nggak papa, syukur-syukur ada yang nemenin berangkat atau nemenin pulang :))) Hati ini sudah terlalu rapuh sendiri hiks. #abaikan

Ya gitu deh, gue sedang berkelahi dengan diri gue sendiri sih, bagaimana jawaban dari semuanya. Huhuhu yang pokoknya harus lo ingat, lo resapi, "suka aja nggak cukup", iya, "sayang aja nggak cukup". Tapi mungkin insyaallah dengan landasan rasa suka/rasa cinta, semuanya akan lebih mudah kita jalani. :) Segitu ajah, random article gue, ciao!