Secuil Kata buat Pak Bangun

Pak Bangun..
Pak Bangun itu bukan seorang Mahatma Gandhi yang bisa menegakkan kebenaran di dunia. Pak Bangun hanya seorang guru yang selalu mengatakan "MERDEKA" di akhir pelajaran kimia.
Pak Bangun bukan Einstein yang bisa menciptakan berbagai alat dengan Ilmu Fisikanya. Pak Bangun hanya seorang guru yang ingin menciptakan "Einstein"-Einstein lainnya di dunia.
Itulah, Pak Bangun.

Beliau selalu menginspirasi kami di kelas. Beliau mengatakan, "Guru yang berhasil bukanlah guru yang bisa mengajarkan trigonometri, nak. Tetapi guru yang berhasil adalah guru yang mampu memotivasi murid-muridnya untuk menjadi seorang yang brilian."

Kalimat itu selalu terngiang di otakku. Meskipun Pak Bangun mendidik kami dengan keras jika kami tidak mengerjakan tugas yang diberikannya, beliau selalu memarahi kami. Tidak, bukan memarahi, tetapi lebih pada memotivasi kami.
Ya, kalian tahu? Aku pernah menangis ketika beliau mengajar. Bukan. Bukan karena aku dimarahi atas tugas yang tidak kukerjakan. Tetapi karena beliau mendongengi kami tentang tokoh-tokoh yang bisa membuat perubahan di dunia karena tetesan peluh mereka.

Aku menangis karena tak kuasa membayangkan betapa sedihnya beliau jika kami tidak mengerjakan tugas beliau. Beliau berkata lirih, "Lakukanlah apa yang menjadi kesenanganmu, tapi jangan lupa tetap lakukan apa yang menjadi kewajiban warga negaramu."

Pak Bangun pernah berkata, "Siapa di sini punya cita-cita?" dengan aksen bataknya.
Kami mengacungkan telunjuk ke atas serentak.
"Ya, Nugraheni, apa cita-citamu, nak?"
"Saya mau menjadi seorang PENULIS, Pak."
"Berapa sudah tulisan yang kamu buat yang dipublikasikan di media?"
"Baru satu, Pak."
"Bah, macam mana pula kau ini? Mau menjadi PENULIS, tapi tulisanmu hanya SATU BIJI yang dimuat!" "Dimana tulisanmu itu di muat media?"
"Di majalah Bobo, Pak."
"Baaahh, majalah Bobo pula! Kau ini sudah SMA kelas 2, masa tulisanmu di muat di BOBO??"
"Iya, Pak, waktu itu saya kelas 5 SD. Saya sering nyoba ngirim cerita ke majalah tapi ngga pernah dimuat, Pak."

Itu sepotong percakapan kami di kelas. Memang, beliau sering berbicara dengan keras. Tetapi ketahuilah, itu bukan bermaksud untuk marah-marah, tetapi agar jiwa yang tertanam dalam diri kita bukan bermentalkan "tempe". Ibuku selalu berkata seperti itu jika aku berbagi cerita tentang Pak Bangun padanya.

Berikut adalah beberapa kalimat yang dilontarkan Pak Bangun yang berhasil kuabadikan dari awal aku diajar oleh beliau:
  • Pemimpin yang baik adalah orang yang siap menghadapi masa depan
  • Orang yang unggul adalah orang yang selalu memenangkan hal-hal yang positif dan mengalahkan hal-hal yang negatif
  • Pahlawan itu bukan orang yang memiliki kehebatan, tetapi pahlawan adalah orang yang mengakui kesalahannya (ini dikatakan beliau ketika kami sekelas mencontek)
  • Jangan turunkan harga dirimu dengan kata "TAK MENGERTI" (ini dikatakan beliau ketika ada salah seorang temanku bilang "SAYA NGGA NGERTI PAK CARANYA" ketika dia tidak bisa mengerjakan soal Kimia yang dilontarkan Pak Bangun)
  • Seseorang yang selalu melihat ke luar, maka orang tsb akan stres, tapi jika orang tsb selalu melihat diri sendiri, maka orang tsb akan hidup.
Aku berjanji pada diriku sendiri agar aku menjadi pahlawan yang hidup yang tidak pernah menurunkan harga dirinya karena mengucapkan kata "TAK MENGERTI" dan menjadi seorang pahlawan yang selalu mengakui kesalahannya.
Ayo sobat, buat beliau bangga karena telah bertatap-muka dengan kita!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harapan dan Kesan Kuliah di Kampus Diploma IPB

Penulis? *tsah!

Cerita di Balik Pemilihan Jurusan Kuliah