Suasana Ujian Nasional

Seperti yang sudah gue katakan di kiriman sebelumnya bahwa UN memang membuat semua hal yang seharusnya bisa langsung gue post ke blog, menjadi tertunda sampai UN itu sendiri akan berakhir.

Now it's time to post.

Sebelumnya kalian pasti sudah tahu apa itu UN. Ujian Nasional atau yang biasa dipanggil UN ini sudah menjadi hal menakutkan yang terjadi setiap tahun di Indonesia kita ini. Semua murid yang berada di jenjang akhir tingkatan pendidikan mereka selalu berhasil galau segalau-galaunya orang galau. Gimana ngga, UN yang banyak dipandang orang sebagai hal sakral ini memang punya tingkat kegaiban tersendiri.
Contoh: "Awas, Nak, jangan ngebut-ngebut mau UN, nanti kecelakaan." pesan si Nyokap sebelom Doni malam mingguan.
Pas pulangnya bener...kepala sama badan ngga utuh lagi luka-luka. "Masya'allah kamu kenapa, Don?? Mama kan tadi udah pesen kamu jangan ngebut-ngebut. Inget lho, Nak, mau UN"
"Nabrak tukang sayur, Ma..." jawab Doni polos.

Tapi hal kayak gini beneran terjadi lho sama salah seorang teman gue di sekolah. Gue sih ngga tahu persis ya cerita lengkapnya, tapi menjelang UN sekitar 1 bulanan, teman gue [sebut saja Roy] kecelakaan. Padahal sebelum pergi nyokapnya udah ngelarang do'i keluar, tapi emang dasar telinganya lagi kesumpel kapas satu bungkus, Roy pun cabut. Sebelum pergi Roy masukkin kepalanya ke helm yang tanpa do'i kunci klip helmnya. Ini Roy lakuin dari dulu setiap do'i menggunakan helm. Tapi siapa sangka kalau ternyata do'i kecelakaan karena aksi kebiasaan buruknya? Walhasil kritis selama hampir sebulan pun do'i jalanin di rumah sakit.
NAHH..... kalau udah kayak gini siapa yang disalahin?

Ya ngga ada. Itulah UN. Punya nilai sakral tersendiri. Lain halnya dengan gue, yang terjadi pada gue adalah...

Menjelang UN gue menjadi ngga peduli pada semuanya. Tingkat ketidakpedulian gue melebihi ketidakpedulian mereka yang pacaran [baca: Hal yang Perlu Dipikirin Sebelum Pacaran] dan gue pun menjadi orang yang lemot karena tidak pernah memikirkan hal lain selain masa depan pendidikan gue. Semua yang ngga berhubungan dengan UN, gue anggap ngga penting.

Contoh:
Siang itu ada teman gue bilang, "Put, orang yang lu suka udah punya cewek lho..."
Gue jawab, "Ah ngga penting~"
Padahal hati gue pingin teriak, "APPPPAAAAAAAA??!!"

Menjelang 22 hari sebelum UN ketidakpedulian gue pada semua hal yang tidak berhubungan dengan UN mencapai klimaksnya.

Contoh:
Suatu siang di sekolah ketika gue sedang mengerjakan latihan soal UN, guru wali kelas gue bilang, "Nugraheni, isi data SNMPTN kamu ya di Lab. Komputer."
"Ah ngga penting, ngga keluar di soal UN, Bu~" krik krik, sunyi melanda. Hening sebentar. Dan ketika gue lihat wajah wali kelas, do'i siap-siap damprat gue.
Selang beberapa detik gue masih sempat berpikir apa yang salah dengan kata-kata gue??
"Maksud kamu APAAA?!" Emang ngga bakal ada di soal UN, tapi kamu ngga bakal masuk PTN kalo kamu ngga isi data sekarang juga!!"
APPAAAAAAA?? Gue ngga bisa masuk PTN?? Ada apa?? Kenapa???

Begitulah ke-lemot-an gue.

Setiap orang memang punya antisipasi sendiri menjelang UN, punya kebiasaan yang unik juga. Gue harap hal ini terakhir terjadi pada gue dan ngga terjadi pada kalian.

Komentar

  1. iyanih, sorry ya. baru nulis lagi soalnya. makasih komentarnya :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harapan dan Kesan Kuliah di Kampus Diploma IPB

Penulis? *tsah!

Cerita di Balik Pemilihan Jurusan Kuliah