Minggu, 12 Mei 2013

Apa kabar pembaca setia (setiap tikungan ada)? Sepertinya waktu berlalu begitu cepat ya? Baru juga kemarin hari Sabtu, sekarang udah hari Minggu aja. (menurut lo!?) Anyway, how's your satnight?~ Gue yakin nih yang pacaran senang, yang jomblo meriang~

Oke, gue langsung ke judul. Gue akan melanjutkan cerita yang sebelumnya gue sudah janjikan pada kalian.

Gue duduk di kursi yang berada di depan Raditya Dika dan Arief Muhammad. Jantung gue rasanya deg-degan dan mau copot. Bukan, bukan karena duduk di depan mereka, tapi karena capek habis lari rebutan tempat duduk. Ngga rebutan juga sih, tapi gue nya aja yang parno takut keduluan sama orang lain. Wkwk maklum. Fans.

Vita, teman gue, langsung membuat ulah, "Put, lu mau gue rusuh ngga?" "Mau ngapain lu? Jangan macem-macem, gue ngga mau malu." Lalu gue pandang wajahnya Vita yang raut mukanya waktu itu persis kayak koala nahan pup (peace, qaqa.) Ok, gelagatnya udah ngga enak, do'i ngga pewe duduk dan ancang-ancang mau berdiri dan nengok ke belakang sambil pegang note kecil lengkap dengan pulpennya. 1, 2, 3, bener kan itungan ke 4 dia duduk. (teruus!?) Ngga, dia......ah.......ok, apa yang harus gue perbuat melihat Vita, ahh..... Vita pup!! (FIX, GUE NGARANG) Vita berbalik arah dan,
"Bang Radith, boleh minta tanda tangannya ngga?" kata Vita dengan tampang ngga bersalah karena udah gangguin Raditya Dika lagi pacaran.
"Oh, boleh-boleh." jawab Bang Radith. Untuk pertama kalinya gue lihat Bang Radith ngomong. Langsung. Di depan mata gue meskipun ngomongnya bukan sama gue -___-'
"Bang, kok Edgar ngga ada sih?" lanjut Vita sementara nunggu Bang Radith lagi tanda tangan.
"Iya, dia ngga ikut." jawab dia. Udah gitu doang?! Gue juga tau, pe'a, dia ngga ikut! Rasanya gue pingin manggil elang. Bukaaaaaan, gue ngga niat terbang pake elang, tapi gue pingin nyakar mukanya Raditya Dika pakai cakar elang.
"Iya, dia kan ganteng, Bang, ngga kayak lu," tambah Vita. Busetdah ni orang ngomongnya frontal amat ya. "Nanti kalau ketemu Edgar salamin ke Edgar ya, Bang." Astagaaaaaa, gue yang ngefans sama Raditya Dika berasa ciyut hanya memperhatikan mereka bercakap-cakap tanpa terlibat di dalamnya. Akhirnya setelah keberanian gue berhasil ngumpul, gue pun mengeluarkan kalimat.
"Bang...ngg...Ditya--eh Bang Radith, bol--boleh minta tanda tangannya--ngga?" G-g-gue gagap. FIX.
"I--i--ya, bol-bol-bolllll-eh, kok." Haaaah!! disahutin gagap! Bolnya! Gede banget! (?)
Gue pun menyodorkan dua novel Raditya Dika ke tangannya. Sambil melemparkan senyuman hangat ke Anissa Aziza, pacar Raditya Dika.
"Bang, minta tulisan "Happy Birthday" sama "to Puput" nya ya." lanjut gue semangat.
"Oh, iya, emang siapa yang ulang tahun?" balas Bang Radith.
"A--aku..." jawab gue agak canggung.
"Cieeeeeee, metyaw!" sahutnya.
"I--iya, makasih :). Bang, aku suka nulis cerita tentang Abang lho di blogku."
"Miapah!? Ciyusan? Enelan?? Co cweet ngedh sich!?" Anjrit ini orang di depan ceweknya aja kayak begini gimana di belakang!? Gue perhatiin Kak Anissa mukanya kayak kol rebus yang ada di panci abang-abang tukang siomay, nahan malu.
"Hahahaha!! GA LUCU LO, BANGS*T!" (jawaban ini ngarang.)
Setelah selesai gangguin guru besar gue pacaran, kita berbalik arah. Tapi Vita yang ngga tahu diri balik lagi ke belakang. Kampreet, ini orang mau ngapain lagi sih!?? Gue maluuu... (maksud gue, AJAK-AJAK GUE, B*GO!!)
"Bang Radith, ini filmnya berapa lama sih?" UDAH, CUMA MAU NANYA ITU DOANG!? Di saat yang bersamaan gue lihat Bang Radith yang tadinya baru memberikan bahunya ke ceweknya, langsung bangkit lagi untuk sekedar jawab pertanyaan dari (apakah kali ini gue harus menyebut dia teman gue!!?) Vita (OK, dia lovely friend gue :*)
"Engga lama kok, cuma empat hari :)" Klik. Vita balik kanan dan kembali menatap layar dengan bibir menganga membentuk huruf 'O'. Sementara gue, gue sibuk melihat novel gue yang barusan ditandatanganin, "Ini...tulisannya R-r-rad eh, Rad atau Red ya? Dit? Dick? Red Dick??! Titit merah!? Oh My God. Jadi?" Lo bisa liat sendiri tulisan mautnya nih:
Tanda tangan Raditya Dika

Setelah itu Vita ngga bisa diam mulai dari awal film dimulai sampai film berakhir. Dia hiperaktif  kayak anak-anak autis. Dia merangkak kesana-kemari, dia kayak bayi baru belajar jalan. Dia melemparkan kaleng cat ke semua penjuru bioskop dan menangis meraung-raung. (Ok, gue ngarang.) Tapi kemudian di pertengahan film diputar, dia memperhatikan Arief Muhammad yang duduk di belakang gue.

"Put, coba lu lihat Arief Poconggg." bisik Vita.
"Ngapain sih ah, gue lagi nonton nih! Jangan berisik. Nanti aja kalau mau ngomong." Rasanya gue pingin bikin baliho atau umbul-umbul atau spanduk yang bertuliskan "Jangan berisik. Ujian sedang berlangsung." terus gue pasang gede-gede di samping kursi gue menghadap Vita saking ngga mau diamnya teman gue ini.
Vita pun terdiam, gue ngerasa bersalah, akhirnya gue jawab, "Iya, iya, gue lihat." tak lama kemudian,
"Ya ampun........Gantengnya! Ganteng banget!!"
"SSSTTTT!!!" gubris orang-orang di sekitar gue. "Ma--maaf." Gue keceplosan ngomong tanpa mengecilkan volume suara gue.
"Dodol lu!" "Iya, maaf." "Bukan gantengnya, tapi....lihat deh, diem banget nontonnya. Ini kan film komedi, masa dia ngga ketawa sama sekali."
Iya, benar, Arief Muhammad nonton tanpa ekspresi, pemirsa. Full. Dari awal sampai film selesai. Takjub! O.

Dengan sekelumit percakapan di tengah film berlangsung, akhirnya film Cinta Brontosaurus selesai di putar. Jam menunjukkan pukul 11.30, gue sudah bergegas bangkit dari kursi bersejarah saksi bertemunya gue dengan Raditya Dika, tapi...Vita kembali berulah.

"Conggg, minta tanda tangannya dong." Buset ni orang minta tanda tangan kayak ngerampok tanda tangan! Ngga ada sopan-sopannya sama yang lebih sepuh (?)
Tapi untungnya Poconggg sabar, kalem, gue makin ngga enak ada di samping Vita. Rasanya gue pingin masuk ke mulut naga, kebakar ngga papa deh.
Tanpa ba-bi-bu Poconggg meraih note kecil dan pulpen yang disodorin Vita. Setelah selesai, Vita ngode Poconggg untuk mendekat dan entahlah.....dia membisikkan sesuatu di telinga pria berwajah tablo namun gantengnya bukan main tersebut.
"Udah ayo, pulang!" sergah gue. Poconggg melihat jam di tangan kirinya. "Tunggu dulu dong." jawab Vita. Dan...tak lama kemudian,
"...Ppy birthday, ya..." tangan kanan gue pun diraih Arief Poconggg. 1 detik, 2 detik, 30 detik, suara gue seperti hilang entah kemana. Menembus segitiga bermuda nun jauh di sana. 30 detik! Sebelum akhirnya gue tersadar dari kebekuan gue. Boleh ngga gigi gue berhenti bergemeletuk? Bukan, bukan karena kedinginan. Tapi....tangannya Arief Muhammad dingin bangeeeet. :)
"Iyyy-a Bang, ma-ka-sih." Ya Tuhan terimakasih. Saat itu juga gue merasa menjadi orang paling bejo. Vita yang selama 6 jam lebih bersikap gila sampai membuat gue ragu untuk mengakui apakah makhluk ini teman gue dan apakah gue temannya? Apakah kita saling kenal? Akhirnya..........makasih Vita! Karena ternyata dia membisikkan kalimat berisi permintaan untuk sekiranya Poconggg mau mengucapkan dua kata itu kepada gue. Dan do'a-do'a pun keluar dari mulut Arief.
"Semoga panjang umur ya, sehat selalu, semoga ngga jomblo lagi, dapet pacar." AMIN. AMIN YA ALLAH. Rasanya gue pingin memanggil jama'ah Ustad Maulana untuk mengaminkan ucapan makhluk tampan ini.

Dan hari itu pun berakhir sangat manis tepat jam 12 malam. Di tengah jalan raya kota Jakarta yang sepi, hanya ramai dengan lampu-lampu gedung pencakar langit, gue teriak. Betapa senangnya gue. Betapa bejonya gue hari itu. Dan betapa Allah baik kepada gue. Di ulang tahun ke 18 ini. Terimakasih. :)

Sekian cerita gue. Mohon maaf kalau ada salah kata.
#NoHate
*Kecup basah*
Reaksi:

5 komentar:

  1. sumpah gua ga ngerti nih lu ngomong apaan dan kaga nalar di otak gua

    BalasHapus
  2. saking senengnya diaa...dan itu asli ada beberapa yg ga real.

    BalasHapus
    Balasan
    1. kan udah gue tulis dengan kata2 *gue ngarang* :))

      Hapus