[CERPEN] Memorial 1 Juni 2013

"Han, jadi ngga?" Hana mendapati sebuah pesan masuk ke ponselnya.
 Oh, dari Rama, teman sekolahnya yang selalu ia bilang mirip dengan kakak kandungnya--Mas Arman--selama 3 tahun bersekolah di SMA Tujuh Lima Pelita.
"Jadi apa, Kak? Ngapain?" balas Hana kemudian menekan tombol send di layar ponsel touch-screennya.
Hana terkadang memang memanggil Rama dengan sebutan 'Kak'. Ya, benar sekali. Karena Rama mirip dengan Mas Arman. Sesederhana itu.
"Lo lupa? Itu lho, nganter pelepasan gue besok pagi." balas Rama.
Ah, Hana ingat sekarang! Tadi sore Rama mengirim pesan singkat kepada Hana dan mengajaknya untuk pergi ke acara pelepasan pria itu di Senayan. Rama akan mengikuti pendidikan Bintara Polisi di--entahlah, Hana tidak ingat betul di mana Rama akan mengikuti pendidikan, yang jelas ia hanya ingat di Jawa Timur, Watukosek. Dan Hana ingat, Rama akan mengikuti pendidikan itu selama 7 bulan. Hana tiba-tiba tenggelam dalam pikirannya.
"Dek, gimanaaaa??" SMS dari Rama kembali masuk. Membuat Hana tersadar. Iya, Rama memanggil Hana dengan sebutan 'Dek', kadang-kadang.
Hana akhirnya membalas dengan ringan, "Hm, iya, nanti ditanya Mama dulu, boleh ngga. Nanti gue SMS lagi ya, Kak. Ini lagi di tempat les."


---------------
Di rumah.
"Ma, Rama ngajakin aku ikut ke acara pelepasannya dia. Dia mau pendidikan polisi di Jatim selama 7 bulan. Boleh ngga aku ikut?"
Mama memang sudah mengenal Rama. Seminggu yang lalu, Hana mengenalkan Rama pada Mama dan Papanya di acara wisuda sekolahnya.
Mama berpikir, berpikir lebih dalam. Membiarkan Hana menunggunya sambil memegang ponsel miliknya.
"Coba kamu tanya Papa aja. Mama sih oke-oke aja. Emang acaranya jam berapa?" kata Mama kemudian.
"Jam 12 malam ini aku dijemput, Ma. Pulangnya mungkin jam 6 pagi. Gimana, Ma?" jawab Hana agak berat khawatir Mama menolaknya. Hana tahu Mama akan menolaknya mentah-mentah. Mama tidak akan membiarkan anak perempuan satu-satunya keluar semalam itu tanpa dirinya. Hana sangat tahu. Tapi ia harus jujur. Dan...
"SEPAGI ITU???," Mama terdiam sesaat. Hana tidak berani menatap wajah Mamanya. Dan ia tidak berani berkata apa-apa.
"Yang penting kamu izin sama Papa aja deh." Mama melanjutkan. SERIUS?? Kenapa Mama santai sekali merespon permohonan izin Hana?? Padahal Hana kira. Ah, sudahlah. Hana masih tak sadar dengan apa yang baru saja dikatakan Mamanya. Tanpa ba-bi-bu, karena waktu sudah menunjukkan pukul 8.30 malam, Hana menuju ke kamar Papanya. Ya, Papa sedang tertidur karena baru saja tiba dari Malang.
APA?? PAPA SEDANG TIDUR??? Hana kembali sibuk memikirkan bagaimana reaksi Papanya ketika ia meminta izin nanti. Dan Papa sedang tidur itu berarti Hana akan mengganggu. Hana sudah melakukan kesalahan 2 kali jika Papa benar-benar menolak untuk memberi izin Hana keluar.
"Pa," kata Hana setelah ragu untuk membangunkan Papanya.
"Hm?" jawab Papa malas.
"Pa, aku... a-aku..." mendengar suara anaknya yang sedikit canggung, Papa bangun juga.
"Aku boleh izin keluar jam 12?" melihat reaksi Papanya, Hana buru-buru menambahkan,
"Iya, jadi Rama besok pagi ada pelepasan Brimob gitu, aku diajak Rama. Bo-leh, Pa?" Hana menghela napas karena akhirnya bisa mengeluarkan kata-kata itu.
Hana menunggu, 1 menit, 2 menit, 5 menit. Hana putus asa. Dan,
"Ngga boleh." kata Papa.
'Tuh kan, sudah kuduga.' batin Hana. Tapi kemudian Papa bertanya,
"Emang ada siapa aja?? Jam 12 malam perempuan kok keluar!"
"Keluarganya, Pa." jawab Hana lesu. Hana tahu, Rama pasti kecewa. Karena sejak tadi sore Rama terus mengajaknya dan mengatakan bahwa ia kecewa jika Hana tidak datang. Sebenarnya Hana juga bingung mengapa Rama seperti itu karena Hana merasa bahwa ia dan Rama tidak terlalu dekat. Hanya sesekali SMSan, mungkin akhir-akhir ini baru sering SMSan. Bahkan ketemu di sekolah pun hanya sebatas bertemu di mushola, di kantin,di parkiran atau di koridor. Memang sesekali Rama mengajak Hana untuk pulang bersama. Tetapi ia selalu menolaknya karena Hana harus les.
"Yasudah, boleh." Hana tersadar ketika mendengar dua kata itu keluar dari mulut Papa.
"Serius, Pa???? Makasih!! Hehe" ucap Hana senang. Tunggu, mengapa Hana senang? Padahal ia lelah karena seharian pergi dan harus bangun sepagi itu esok hari. Seharusnya Hana kesal karena jam istirahatnya diambil. Entahlah, Hana hanya senang. Sesederhana itu.
Hana pun tertidur setelah sebelumnya memberitahu Rama bahwa besok ia diizinkan pergi. Rama berjanji akan menelepon Hana dan membangunkannya.



---------------
"Hallo?" Hana meletakkan ponsel di telinganya dengan malas. Hana tahu itu Rama. Hana sudah mendengar ponselnya berbunyi beberapa kali, tapi badannya sangat sulit diajak kompromi untuk segera beranjak dari tempat tidur.
"Lo udah bangun belum sih?" suara Rama terdengar di seberang.
"Iya, udah. Gue mandi dulu, Ram! Nanti kalau udah selesai gue SMS." jawab Hana dengan suara serak.
 Suaranya belum pulih dari tidur pendeknya. 3 jam, hanya 3 jam Hana tidur setelah semalam selama 1 jam meminta izin dari orangtuanya.
"Ngga usah mandi, Han. Kayak mau ke undangan aja. Lu mau sakit jam segini mandi?" Hana termangu. Kemudian menjawab,
"Gitu? Yaudah ganti baju dulu. Pakai baju apa?" Hana masih bingung dengan perintah Rama barusan.
"Apa aja terserah. Yang penting rapi." Rama memang cuek, tapi Hana tidak mungkin menuruti perintah Rama kali ini, ia tidak mungkin memakai kaos dan jeans. Iya, menurut Hana, satu setel pakaian itu selalu rapi di matanya, asalkan disetrika, semua beres.
Hana pun teringat untuk memakai baju yang semalam disarankan Mamanya. "AH!" celetuk Hana setelah memutus telepon, otaknya baru saja menyetujui saran Mamanya.
20 menit kemudian Hana siap dijemput setelah sebelumnya sikat gigi. Entahlah, pagi ini pasta gigi terasa sangat pedas. Hana seperti memasukkan segenggam balsem ke dalam mulutnya.



---------------
Rama pun datang bersama kakak iparnya, Mas Toha. Iya, Hana tahu dari Rama. Ketika Hana bertanya, pria itu siapa, Rama menjawab jail itu bodyguardnya. Tetapi kemudian Rama meralatnya ketika melihat gadis itu berpikir perkataannya tadi benar. Kemudian Hana bertanya bagaimana bisa ia naik motor sementara dirinya memakai rok. Rama pun baru sadar gadis di sampingnya menggunakan rok dan ia menjemput gadis ini dengan sepeda motor. Rama... ah! Rama melihat gadis ini sangat anggun dengan rok hitamnya. Tetapi kemudian Rama tersadar dan menjawab pertanyaan Hana karena wajah gadis itu sepertinya sangat bingung.
"Ya, naik. Masa naik ngga bisa?" jawaban Rama tidak menyelesaikan masalah. Karena rupanya Hana memikirkan 'Bagaimana ia bisa naik kendaraan roda dua ini dengan 3 orang di atasnya? Ya, Mas Toha, Rama, dan Hana....di atas 1 motor.' Rama seperti bisa membaca pikiran Hana dan mengatakan, "Gue bawa motor 2, Hanaa. Tenang aja! Mas Toha bawa motor sendiri." Oooh! Ternyata motor yang satunya terhalang pohon mangga rindang yang berdiri di depan rumah Hana!



---------------
Di rumah Rama.
"Malam, Oom." sapa Hana. Hana kesal, di saat seperti ini suaranya terdengar serak. Dirinya masih belum sadar betul bahwa sekarang ia berada di rumah Rama. Rupanya nyawa Hana masih belum terkumpul seratus persen. Yang benar saja, Hana harus berkenalan dengan orang baru di waktu sepagi ini. Ya, Hana baru pertama kali bertemu dengan keluarga Rama. Hana bahkan tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi di hidupnya. Hana memang menganggap Rama seperti kakaknya sendiri, tetapi apakah ia akan menganggap keluarganya Rama seperti keluarganya sendiri? Entahlah, Hana tidak ingin membenamkan dirinya dalam khayalan-khayalan yang tidak akan pernah selesai. Yang ia tahu, ia hanya belum siap untuk berada di sini, di tempat ini, bersama keluarga Rama.
Hana selesai berkenalan dengan ayahnya Rama. Muncul seorang pria dewasa.
"Hallo, siapa ini? Kenalkan saya Jaka, supir pribadinya Rama." semua orang di rumah Rama tertawa. Ya, rumah Rama ramai. Ada kakak-kakaknya dan keponakannya.
"Hahaha, bercanda, aku tahu, pasti kakaknya Rama kan?" jawab Hana setelah kesadarannya sedikit pulih.

Begitulah celotehan mereka di pagi buta. Hana sekarang tahu Rama memiliki 2 orang kakak. Kakak pertamanya laki-laki sudah menikah dan memiliki 3 orang anak yang masih kecil-kecil, kakak keduanya perempuan sudah menikah juga dan memiliki 2 orang anak yang juga masih kecil-kecil. Dan mereka semua ada di rumah Rama. Bisa bayangkan betapa ramainya suasana saat itu? Sedangkan Hana masih bersusahpayah mengumpulkan nyawanya.
Tak lama berceloteh, Hana dan keluarga Rama pun berangkat ke Senayan kecuali kedua kakak perempuannya.



---------------
Di jalan.
Hana berbisik pada Rama,
"Ram, gimana Ocha?" Hana takut yang lain mendengar.
"Gimana apanya?" jawab Rama berbisik di telinga Hana.
"Iya, lo suka kan sama Ocha? Kok Ocha ngga diajak? Malah gue..." Hana sedikit sewot karena ia tidak berhasil mengumpulkan nyawanya. Entah kapan nyawanya akan terkumpul. Yang jelas ia sedikit kesal Rama tadi membangunkannya sampai 20 kali panggilan tak terjawab.
"Apaan sih!? Lo tau dari mana??" tiba-tiba Rama gusar. Rama terlihat sedikit tidak santai. Entahlah. Hana hanya ingin mengetahui apakah Rama suka dengan Ocha. Iya, Ocha, teman sekolahnya. Dan, iya, Hana hanya ingin tahu. Entahlah, yang jelas Hana harus tahu.
"Dari Gisel, ehm, enggak, dari Kano, maksud gue, gue tahu dari Gisel dan Gisel tahu dari Kano, cowoknya." Iya, mereka berdua teman sekolah Hana dan Rama.
"Enggaklah! Aneh-aneh aja!!" jawab Rama. Raut wajahnya berubah sangar. Entah mengapa Rama bisa sesangar itu.
"Jadi?" kata Hana akhirnya, takut Rama bertambah sangar.
"Apa?" jawab Rama menoleh,
"Mau marah dong sama Kano nanti?" kata Hana berpikir,
"Iyalah! Bikin berita aneh aja!" Rama memutuskan.
"Oh..." "Ini....lihat!" Hana menyodorkan layar di ponselnya, tepatnya menyodorkan foto kontak Rama di ponselnya. Ya, Hana meletakkan foto mereka berdua ketika wisuda atas nama kontak Rama. Herdian Rama Angeliano. Lagi-lagi Hana tidak tahu mengapa ia melakukan itu. Yang jelas, Rama hanya harus tahu.
"Bagus kan?" sambung Hana. Ia tidak peduli bagaimana ekspresi Rama. Yang jelas, Rama hanya harus tahu.



---------------
Mas Jaka memecah keheningan di dalam mobil.
"Lihat kalian berdua gini, Mas jadi ingat dulu Mas juga diantar Mba Hera, istrinya Mas tadi itu lho yang di rumah. Dulu Mas pas mau pendidikan juga gini. Persis kayak kamu gini, Ram!"
"Tapi Mas dulu pacaran... Hehehe ngga tahu kalau kalian." lanjut Mas Jaka.
Rama hanya tersenyum samar. Hana memerhatikan pria berkepala botak plontos itu dari samping.
"Ram, jadi gimana?" lanjut Mas Jaka.
"Apa?" Rama balik bertanya.
"Kamu setiap malam minggu selama ini berarti ke rumah Hana?? Hahaha bisa-bisanya kamu bohong selama ini ditanya Ayah mau kemana, jawabnya main futsal ternyata kerumah cewek!"
Apaa?? Hana tidak berani mendengar kelanjutan kata-kata Mas Jaka. I-ini semua di luar dugaan, Hana tidak pernah menduga bahwa keluarganya Rama mengira sejauh ini hubungannya dengan Rama.
"Iyain aja!" jawab Rama singkat. Jawaban Rama membuat Hana protes dan mencolek pria itu.
"Hey, lo kok diam aja Mas Jaka ngomong gitu???" bisik Hana.
"Iyain aja ya, Han. Gue malas memperpanjang." Hana tidak habis pikir. Ia hanya bengong.

Dan setelah itu, semakin banyak dugaan-dugaan aneh hasil rekayasa Mas Jaka dan Ayahnya Rama. Hana semakin tidak enak.
Tidak lama kemudian, mereka tiba di Parkir Timur Senayan. Tempat Rama apel sebelum akhirnya diberangkatkan menggunakan bus untuk selanjutnya naik pesawat menuju Jawa Timur.



---------------
Suasana sangat ramai. Penuh dengan pria seumur Hana dan Rama. Kepala mereka botak bersih persis seperti Rama. Tetapi beberapa di antara mereka ada yang menggunakan seragam berbeda warna kerah. Rama berwarna merah, dan beberapa berwarna orange. Entahlah apa maksudnya, Hana sudah menanyakan hal itu kepada Mamanya Rama, tetapi sepertinya beliau juga tidak terlalu paham.

Harus Hana akui, Rama terlihat gagah di antara teman-temannya. Tetapi kemudian Hana sadar, ia harus menjaga dirinya untuk tidak lepas dari keluarga Rama. Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari, tentu saja gelap. Hana tidak ingin hal yang tidak ia inginkan terjadi, terpisah dari keluarga Rama.

Hana dan keluarga Rama terus mengikuti perpindahan barisan Rama. Dari mulai barisan acak nama, sampai nama urut secara alfabetis. Kemudian ayah Rama berkata, "Han, coba kamu sampaikan pesan Oom ke Rama. Jaga fisik, kuat mental, dan konsentrasi." Hana sebenarnya bingung kenapa harus ia yang menyampaikan pesan itu, tetapi ia hanya mengiyakan. Sekaligus ia ingin berbicara dengan pria itu.
"Rama, lo yang kuat ya di sana. Hmm jaga fisik, kuat mental, dan selalu konsentrasi. Jangan mengecewakan selama 7 bulan di sana. Ok?" mendadak leher Hana terasa tercekat, ia hanya menatap wajah Rama lekat dan....tersenyum.
"Iya, Hana, pasti." jawab Rama lirih dan memegang tangan Hana. Entah mengapa Hana tidak ingin pria itu melepas tangannya. Hana ragu apakah nyawanya sudah terkumpul atau belum. Rama seperti ingin memeluk Hana, tetapi gadis itu terlihat seperti menahan dirinya. Rama pun mengurungkan niatnya.



---------------
Tak lama kemudian, Rama dan teman-temannya masuk ke dalam bus secara teratur setelah sebelumnya di perintahkan oleh komandan apel. Hana hanya mengikuti alur perpindahan tanpa protes.
Entah mengapa, hatinya sedikit berat. Ia kemudian memikirkan bahwa esok, ia tidak akan melihat pria itu lagi. Ia terharu melihat Mamanya Rama menangis menyaksikan kepergian Rama, putra bungsunya.
Dan beberapa menit kemudian,
"Han, tungguin gue ya!!" Rama teriak dari balik jendela bus. Dan tepuk tangan serta sorak sorai meriah pun keluar dari mulut teman-temannya juga dari...keluarga Rama. Wajah Hana memanas. Seketika ia merasa nyawanya sudah terkumpul seratus persen. Tak lama kemudian Rama membentuk jari-jarinya merangkai kalimat I Love You. Hana tidak yakin itu kalimat I Love You atau bukan. Ia ingin bertanya, tetapi belum sempat ia bertanya, bus itu sudah melaju. Mendadak, ia ingin bertanya banyak pada pria itu, ia ingin pria itu tidak pergi. Ia hanya ingin di sini. Bersama pria itu lebih lama. Ia memang ragu, tapi yang jelas, ia hanya senang. Ya, ia hanya senang. Dan Hana yakin, ia akan menunggu sampai pria itu kembali. Sampai pria itu datang menemuinya 7 bulan kemudian. Hana.............mencintai pria itu.

Komentar

  1. Ini cerpen perdana gue. Iya perdana, yang ke lima. Perdana ya pertama lah! (y)
    Sebenarnya gue pingin membuatnya lebih panjang. Ingin gue urai lebih detail lagi, tapi khawatir inti ceritanya malah ngga dapet, walhasil malah jadi seperti ini. Mungkin lain kali bisa gue urai lebih jelas. Tapi untuk kalian pembaca blog gue yang miskin bacaan ga bermutu (macam bacaan ini hehehe), gue harap kalian 'enjoy' bacanya. kritik dan saran selalu gue tunggu ya. Salam super!
    NO PERTAMAX (y)

    BalasHapus
  2. ahahaha pas baca ini kayaknya aku tau siapa rama dan hana di kehidupan nyata.. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. psssshhhftt (gabungan antara psttt dan hfttt)jangan disebut ya :D

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harapan dan Kesan Kuliah di Kampus Diploma IPB

Penulis? *tsah!

Cerita di Balik Pemilihan Jurusan Kuliah