Mereka dan Dia

Selama beberapa saat gue berpikir dalam keadaan yang tidak seharusnya gue pikirkan. Akhir-akhir ini bahkan gue terus terdiam karena berada dalam keadaan yang tak gue inginkan. Pendiam dan pemurung... Seperi itu lah perasaan gue saat ini. Oke, ini membingungkan.
Selama gue jadi MaBa, gue pikir semuanya akan baik-baik aja, hubungan pertemanan yang baik-baik aja, dan segalanya yang sekali lagi, baik-baik aja. Tapi kenyataannya ngga seperti yang gue pikirkan. Sekarang kelihatan.....banget.

Gue ngga bisa berada di dalam kelompok orang-orang yang ngga menginginkan kehadiran gue. Gue ngga bisa dalam keadaan yang membuat gue hanya stuck atau malah jadi negatif. Gue ngga bisa. Dan sekali lagi gue tegaskan pada diri gue bahwa sebenarnya gue ngga berada dalam dua keadaan itu. Gue hanya.....berkali-kali gue berusaha untuk meyakinkan itu, pada kenyataannya....gue memang berada dalam keadaan itu. Keadaan yang membuat gue merasa buruk.

Apa yang harus gue perbuat dengan keadaan yang gue hadapi sekarang? Sekarang bukan dulu, dulu bukan sekarang. Sekarang gue hanya sendiri di sini, ngga ada orang tua yang bisa memberikan efek ketenangan meskipun gue ngga pernah berbagi cerita dengan mereka mengenai masalah yang gue hadapi. Tapi seenggaknya, dengan kehadiran mereka di samping gue, mereka bisa menjadi Trankuiliser yang meringankan rasa cemas gue akan masalah yang gue hadapi. Gue hanya bisa berbagi dengan beberapa di antara mereka yang peduli akan perasaan gue, terutama Allah, Sang Maha Pendengar.

Mungkin, dia hanya bercanda, mungkin dia tidak benar serius melontarkan kata-kata itu pada gue (siang tadi), mungkin dia.......segala macam pikiran husnudzon muncul di benak gue. Tapi semakin gue merasa dia seperti itu, semakin dalam rasa sakit hati gue. Jujur gue ngga suka cara dia memberi tanggapan dari cerita gue. Teman, percayalah bahwa setiap orang berbeda. Kau tidak bisa menyamakan sifat temanmu yang satu dengan yang lain. Hal ini yang membuat gue hands up untuk terus bersama mereka........mereka yang selama ini sudah bersedia menjadi temanku selama dua bulan lebih. Mereka yang juga tidak mengganggapku........

Bukankah teman yang baik akan selalu memberi ruang untuk teman barunya? Aku hanya tidak akan membiarkan diriku tersiksa dengan perasaan mengganggu ini. Aku akan keluar dan akan menjadi diriku sendiri bersama mereka yang menerimaku, bukan hanya kelebihanku, tapi juga kelemahanku. Dan yang terpenting, aku akan bersama dengan mereka yang mau mendengar ceritaku, berbagi cerita denganku, bukan hanya cerita indah tapi juga keluh-kesah. Ya, terimakasih untuk selalu menungguku sebelum berangkat ke kampus. Terimakasih untuk perasaan yang cukup menyakitkan ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harapan dan Kesan Kuliah di Kampus Diploma IPB

Penulis? *tsah!

Cerita di Balik Pemilihan Jurusan Kuliah