Cerita di Balik Pemilihan Jurusan Kuliah

Gue pernah mengalami masa-masa sulit dalam menentukan sebuah pilihan. Pilihan terbesar yang paling sulit yang pernah gue alami adalah ketika gue harus kuliah dan menentukan jurusan. Nggak cuma di jurusan, tapi di universitas mana dan di jenjang (D3/S1) mana.

Setahun menjelang UN gue masih nyantai. Enam bulan menjelang UN gue mulai kelabakan. Try out-try out menuntut gue untuk mengkonsistenkan pilihan gue. Shalat istikharah, shalat tahajud, sampe shalat jenazah (?) gue lakuin. (Yang terakhir yakaaaliii)

Gue melamunkan semuanya, gue googling kalo jurusan ini kerjanya apa, jurusan itu kerjanya apa, konsekuensinya apa, syaratnya apa, itu gue cari semua. Sampai akhirnya gue menjatuhkan ketertarikan gue pada komputer dan bahasa. Standar sih. Banyak juga yang bisa. Tapi gue dari dulu memang hanya tertarik pada itu. Gue pun kembali melamun.

Gue ingat, guru gue berpesan, "Carilah jurusan yang jarang diminati orang agar peluang kamu untuk keterima semakin besar". Fiiiix. Putar otak. Gue harus nyari jurusan di mana di dalam jurusan itu gue emang punya taste dan jarang orang minatin.  Sejam...dua jam...tiga hari.

Ga cukup.

Gue kembali shalat istikharah dan shalat jenazah. Kali ini gue tambah shalat memanggil hujan (BUAT APA WOOOOY?!).
Akhirnya gue memilih kebudayaan sebagai jalan keluar dari kegalauan penjurusan gue ini. Gue browsing. Universitas negeri mana yang punya jurusan itu dan gimana cerita dari pendaftaran yang udah-udah. Lumayan bagus peluang gue untuk ini. Akhirnya gue ceritakan pada bokap dan nyokap gue mengenai keputusan tersebut.

"APPPAAA?! KEBUDAYAAN?!! mau jadi apa kamu???" 

hhhhhh gue tarik nafas. Fix ditolak. Sebenarnya orang tua gue nggak menolak sih. Cuma mereka mengarahkan aja gimana gue nanti kalo cuma pilih kebudayaan. Kebudayaan nggak jelek. Kece badai (Peace ya anak kebudayaan :D). Tapi paling mentok gue jadi guru SBK (Seni Budaya dan Keterampilan) SMP, begitu kata orangtua gue.

Galau.

Pilihan selanjutnya jurnalistik. Browsing. Galau. Siklusnya gitu terus. Nyokap ceramah,

"Kalo kamu pilih jurnalistik dan kerja jadi reporter atau wartawan, nih ibu contohin (nyokap nyalain tv dan mindahin chanel ke tayangan berita perang di Palestina). Suatu hari gimana kalo kamu dikirim untuk meliput kejadian perang di suatu daerah? Kalo kena bom? Naudzubillah"

"TERUS AKU HARUS PILIH JURUSAN APAAAAAAAA????!!" tiiiiiiiit. Gue koma.

Semenit kemudian gue sadar. Apapun pilihan gue ya gue memang harus menghadapi resikonya.
Gue mau komputer, bahasa, jurnalistik! Nggak ada yang boleh menghalangi pilihan gue kecuali Allah (iya gue masih punya Tuhan :))

Try out selanjutnya gue jalani. Baca bismillah, isi nama, bla bla bla, isi jurusan. Ya Allah...
Nanti dulu deh kalo udah selesai isi soal, batin gue. Menit terakhir dikumpulin, gue buletin fisika.

APAAA???? FISIKA!???
"Cepetan kumpulin!!!" teriak temen di depan.
"Iya bentar!!!" tiba-tiba kertas gue diambil sama temen dari belakang dan dia nyerahin ke pengawas.

Gue belooooooooooom-_________- *galau maksimal*

ITU KENAPA GUE TULIS FISIKA YA ALLAHHHHHHH???? APA SALAH JARI GUEEE???

Temen-temen lagi bahas soal jurusan yang dipilih tadi pas try out.
"Put, pilih apa?" seorang temen nanya gue, sebut aja namanya Tursinah.
"Fisika-_-"
"Kok?"
"Iya"
"KOK BISAAAA???"
"GUE JUGA BINGUUUUNG!!!" gue koma.
"Tapi menurut gue, fisika lu emang lumayan sih." 
Iya ya??? Batin gue. Gue buka catatan fisika gue. Nilainya di atas KKM semua. Sekalinya jeblok ya emang sekelas jeblok. Ya Allah, apa ini petunjuk-Mu???
Akhirnya gue mantapkan pilihan di fisika. Bokap nyokap juga nggak menunjukkan wajah menolak.
Pagi-siang-sore-malam-subuh-petang-setengah petang gue belajar fisika. Mati-matian.
Gue nggak mau sombong. Tapi makin lama fisika gue makin expert. saking expertnya tiap temen nanya gue sampe hafal letak halaman pembahasannya. (Iya. Keren kan?)

Mantap di jurusan. Gue galau universitas. Gue inget gue pernah nulis ini:

itu gue tulis pas seminar Great Map di UI pas kelas sebelas. Referensi kampusnya alhamdulillah ya okelah. OKE BANGET MALAH.

Tiga bulan menjelang UN gue pingin pipis terus. Gue bingung mau ambil D3 atau S1. Karena banyak D3 PTN yang kerja sama dengan sekolah gue. Temen-temen banyak yang bilang, kalo D3 tanggung. Lu kuliah lagi buat sarjana. Itu juga belum tentu lu dapet kerjaan. Di tambah lagi sarjana sekarang kan banyak yang nganggur.

Ya Allah.

Gue tanya bokap, "Gimana?"
Bokap jawab, "Jangan menyepelekan D3 lho. Sekarang D3 banyak yang nyari."

Gue katakan hal yang sama pada teman gue, dia bilang "Iya sih..." "...tapi gajinya kecil."

Gue tanya bokap, "Gajinya kecil kan makanya banyak yang nyari?"
Bokap jawab,"Ya iyalah. Mau gede ya kamu langsung doktor!"

Gue katakan hal yang sama lagi ke temen di sekolah. Siklusnya gitu terus. Temen-bokap-temen-bokap.

Endingnya? Sekarang gue mahasiswa jurusan Manajemen Informatika (komputer) di Diploma IPB. Dan pada akhirnya gue sadar, bahwa ketika lo kuliah lo udah nggak mikirin apa-apa lagi, ngga mikirin gaji, ngga mikirin tanggung, atau apa pun yang selama ini lo pikirin soal malu ke temen karena pilih D3.
"Masa temen-temen S1 gue D3?? Terus mereka udah lulus gue baru mulai?? Dengan jenjang yang sama dan masa yang berbeda?? NGGA BANGET!!" Pikiran kayak gini dengan sendirinya akan hilang.

Kenapa?
Karena lo hanya perlu menghadapinya, memulainya dan berjuang untuk mengakhirinya.

Komentar

  1. Dulu pas saya lulus SMA saya memutuskan pilihan pertama itu S1 Ilmu Komputer dan pilihan keduanya S1 Matematika. Keduanya di UGM karena di Jogja tinggal nenek saya.

    Kenapa? Karena semenjak sekolah saya sudah senang "coding" pakai Visual Basic 6 dan HTML 4. Menurut saya, "coding" itu juga berkutat dengan angka-angka dan sewaktu saya baca-baca silabus mata kuliah S1 Matematika menurut saya sebagian besar bisa diterapkan dalam aplikasi komputer. Jadi, menurut saya dua jurusan yang saya pilih masih berkaitan dengan kesenangan "coding" saya.

    Pas ujian UM UGM, ternyata soal-soal fisikanya susah banget! Jadi males saya ngerjainnya, hahaha. Yang saya kerjain semua itu soal matematikanya dan alhasil saya keterima di S1 Matematika UGM. Sekarang saya sudah lulus dan bekerja jadi programmer sesuai kesenangan "coding" saya semenjak dahulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebelumnya terimakasih sudah berkunjung dan berbagi cerita. Subhanallah kereeen! SMA aja udah seneng ngoding ya Mas/Mbak (Maaf, namanya terlalu fleksibel. Jadi saya nggak tau jenis kelaminnya :D)

      Oh emang Matematikanya apa Kak?(Yess! Nemu panggilan yang tepat!) Bisa dong kak berbagi ilmu soalnya dulu pas SMA cuma dapat 1 pelajaran komputer dan itu masih dangkal banget. Kenyataannya di jurusan saya itu cuma kepake di smt awal dan agak susah ngerti di matkul yang ngoding2 hiiiks.

      Hapus
  2. trimakasih infonya,,
    sangat bermanfaat sekali,,
    mantap,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih kembali Mbak Santi sudah berkunjung. Sukses :D

      Hapus
  3. GROSIR MUKENA SYAHRINI kualitas premium, trendy, dan nyaman.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harapan dan Kesan Kuliah di Kampus Diploma IPB

Penulis? *tsah!