Mahasiswa dan Organisasi

Tiga bulan lamanya gue tidak mengirimkan postingan baru di blog ini. Rasanya sangat jahat karena betapa mengagungkannya gue pada blog gue dulu. Sekarang, hampir nggak pernah gue menyebutnya dalam hidup gue. Ketidakmampuan gue dalam mengatur waktu membuat gue nggak bisa ngatur yang lain juga dengan baik. Semoga pembaca sekalian nggak melakukan hal yang sama seperti gue. Hehehe

Gue sekarang resmi jadi "kura-kura". Mahasiswa pasti nggak asing dengan istilah itu. Yup, "kura-kura" adalah akronim dari kuliah rapat.
Di kampus, gue ikut dua organisasi: Organisasi Mahasiswa Daerah (OMDA) dan LK (Lembaga Kemahasiswaan). Tadinya gue ikut Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) juga. Tapi setelah gue pikir-pikir, ikut banyak organisasi akan banyak menyita waktu kuliah gue, apalagi gue tergolong orang yang sulit membagi waktu. Maka dari itu, gue memutuskan untuk meninggalkan UKM ini dan memutuskan fokus pada dua yang gue pilih.

Gue ingin menceritakan dua organisasi yang gue ikuti ini. Tapi sebelumnya gue ingin bertanya pada kalian. Menurut kalian apa sih pentingnya organisasi ketika kalian menjadi seorang mahasiswa? Share di comment box ya! Gue masih tergolong hijau dalam hal ini. Sejauh ini gue belum bisa menyimpulkan banyak, gue juga nggak tahu akan memberikan apa pada kedua organisasi ini. Tapi saat ini soul gue masih terletak pada organisasi. Berhubung masih baru, gue berharap semoga gue nggak punya animo tinggi di awal aja, tapi akan tetap ada animo tinggi sampai akhir. Amin.

OMDA yang gue ikuti di kampus adalah OMDA mahasiswa Jawa Tengah namanya Madipjo, singkatan dari Mahasiswa Diploma Jawa Tengah dan Yogyakarta. Suatu hari teman gue di kampus bertanya, "Ji, lu sebenarnya orang mana? Tinggal di Bogor, SMA di Tangerang, OMDA ikut Jateng."
Jadi, gue adalah orang Bogor karena gue lahir di sini. SMA dan SMP gue di Tangerang karena sebenarnya rumah gue perbatasan Bogor-Tangerang, lebih tepatnya Tangerang Selatan, jadi gue sekolah di Tangerang Selatan. Lalu OMDA gue Jateng karena bokap dan nyokap gue orang Jateng, tepatnya Klaten.

Di kampus banyak, banyak banget mahasiswa yang kasusnya sama dengan gue, lahir di sini dan orang tua orang Jawa Tengah, tapi mereka nggak ikut OMDA. Terus kenapa gue ikut? Menurut gue, tempat yang bisa lu jadikan media pembelajaran mengenai budaya daerah lu sendiri adalah melalui OMDA. Melalui OMDA, lu akan mengenal banyak hal di samping pengetahuan standar yang memang sudah lu ketahui sebelumnya. Gue memang tertarik dengan budaya keturunan leluhur gue ini. Gue ingin mengenal banyak hal dan kalau bukan kita yang melestarikan kebudayaan kita, siapa lagi? Mau kalau nanti budaya kita diambil orang lagi karena kita nggak acuh dengan kebudayaan yang kita miliki? Mau kalau budaya kita hilang tertelan kemajuan teknologi? Mau? Pakai Tri!
Gue nggak mau semua itu terjadi. Minimal gue ikut andil dalam menjaga budaya gue.

Membicarakan Jawa Tengah, gue prihatin dengan pandangan suku lain mengenai Suku Jawa Tengah. Sebelumnya maaf, gue tidak rasis di sini. Suatu hari ada seorang anonymous bertanya pada gue, "Ji, maaf ya sebelumnya, kok orang Jawa selalu memerankan peran pembantu sih di TV? Emang mereka kenapa sih? Mereka kok ndeso ya? Maaf ya."

Jujur....ini....jleb. Delapan belas tahun gue hidup, baru kali ini gue nerima pertanyaan kayak gitu. Kebetulan waktu itu yang nanya beda suku. Oke, gue akan jawab. Gue juga nggak ngerti kenapa hal itu bisa terjadi, gue nggak ngerti kenapa Masha bisa main sama Beruang terus. Entah karena Masha nggak punya orang tua atau Masha tersesat. Gue nggak tahu. Yang gue tahu, orang Jawa (maksud gue di sini Jawa Tengah. Berhubung Indonesia mengalami pembodohan massal mengenai penyebutan orang Jawa Tengah menjadi orang Jawa aja, maka gue juga akan menyebutnya orang Jawa. Intinya gue bodoh-___-) adalah tipe pekerja keras, mereka gigih dalam mencapai sesuatu, sehingga dalam hal pekerjaan, mereka nggak memandang apa pekerjaan mereka. Yang mereka tahu mereka mendapatkan uang halal dari pekerjaan itu dan bisa mengisi tabungan mereka. Orang Jawa terkenal dengan sopan dan tata krama yang santun serta hidup yang sederhana. Peran pembantu sangat lekat dengan sikap santun dan sederhana tersebut, makanya dipilih orang Jawa. Gue sadar betul akan watak mereka. Sedikit bisa menjawab pertanyaan orang beda suku itu. Mungkin ada yang mau menambahkan? Share di comment box. :)

Semua suku itu berbeda, punya ciri khas masing-masing. Jangan pernah menilai buruk suatu suku, karena sebenarnya kita semua 'kan sama. Sama-sama warga Indonesia, sama-sama berdiri di atas semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Kembali ke OMDA, beberapa bulan yang lalu ada acara Pekan Seni Budaya (PSB) dan mereka melombakan kebudayaan dari masing-masing daerah, baik dari tari, pakaian adat, musiknya, dll. Perlu digarisbawahi bahwasanya setiap kebudayaan itu memiliki nilai istimewanya tersendiri. Kita nggak bisa melombakan mereka. Daerah Jawa Timur punya keistimewaan Reog, ini tentu berbeda dengan daerah lain. Nilainya bisa saja sama tapi komponen penyusun atau kriteria keindahannya 'kan berbeda. Bukan begitu? Begitu bukan??

Sementara itu, LK yang gue ikuti adalah komunitas minat dan bakat dalam hal teknologi, namanya MICRO, bisa cek di sini untuk detilnya. Sangat berbanding terbalik dengan OMDA. Di OMDA, gue bisa mempelajari tradisionalnya Indonesia dan di LK gue bisa mempelajari modernnya dunia. LK ini berhubungan dengan Program Keahlian gue di kampus yaitu mengenai komputer. Di LK ini gue masuk di divisi Jurnalistik. Wait, apa sebelumnya gue pernah cerita di sini? I can't remember but iya, gue sangat senang karena di sini gue bisa mengasah minat gue dalam hal menulis dan pada kegagalan gue masuk jurusan Jurnalistik dulu. Melalui LK ini gue berhasil memiliki kartu identitas sebagai seorang reporter yang hhhhhhh gue sangat excited dengan ini! :D

Gue bertemu dengan baaanyaaak orang yang ahli di dalamnya. Gue nggak tahu, mungkin ini cara Tuhan membalas semua pertanyaan gue dan kegagalan gue. Tapi saat ini gue masih percaya, jika mimpi lu gagal, masih ada mimpi lain yang bisa lu raih. Ketika lu give up on it, lu harus yakin bahwa Tuhan mengijinkan untuk nggak sekarang. Nggak sekarang lu bisa dapatin mimpi lu.
Itu yang gue rasa saat ini. Mungkin dulu Allah menutup jalan gue untuk menjadi mahasiswa Jurnalistik tapi sekarang.... See? Gue udah bisa meliput suatu acara dan melaporkannya lalu menulisnya dalam bentuk wacana berita. Damn cool??? Iya, buat gue. Mungkin kalian juga pernah merasa kayak gue? How lucky and blessed you are. Selain divisi Jurnalistik, baru-baru ini LK membuka divisi baru, namanya Bussiness and Public Relation.
Nggak lama kemudian kami rapat dan gue dipilih sebagai wakil ketua dari divisi ini. Nggak ngerti kenapa kepilih. Nggak tahu gimana ketua LK bisa memilih gue. Mungkin beliau khilaf karena bertemu Miley Cyrus. Entahlah... Sampai saat ini gue belum menanyakan kepada beliau mengenai keputusan ini. Tapi rasanya alhamdulillah bisa diberi kepercayaan. Sekali lagi, mungkin ini jalan yang Tuhan kasih supaya gue bisa lebih baik lagi dalam berorganisasi. :)

Ini langkah hidupku, mana langkah hidupmu? :)

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harapan dan Kesan Kuliah di Kampus Diploma IPB

Penulis? *tsah!

Cerita di Balik Pemilihan Jurusan Kuliah