Melankolis Nggak Selalu Sempurna, kok.


Ada yang tahu tentang empat tipe kepribadian manusia? Ada yang baru tahu kayak gue juga? Atau ada yang belum tahu sama sekali?? NORAK! (Sorry, gue baru selesai norak~) Yap, kali ini gue mau membahas tentang hal itu.
Awalnya dosen  gue bilang ke teman gue, “Kamu sanguinis ya?"
Setelah itu gue jadi kepo sama istilah yang disebut dosen gue. Gue memang sempat dengar istilah itu entah kapan, tapi menurut gue itu nggak asing. Sampai pada saat gue tanya pada teman gue tersebut, sebut saja namanya Warsidah (Nama aslinya Ayuti. Kalo lo baca, sorry ya, Yut, nama lo gue ganti. Demi keamanan dan kenyamanan. Baik kan gue?? :)), “Sid, sanguinis itu apa?”
“Coba deh lo googling, semua sifat sanguinis ada di gue.”
Pas balik ke kostan, gue langsung googling. Oooh, sanguinis tuh gini. Ternyata ada tiga tipe lainnya selain sanguinis, yaitu ada plegmatis, melankolis, dan koleris. Tetapi gue masih belum tertarik untuk mengetahui tiga lainnya.
Sampai pada beberapa hari yang lalu, Warsidah ganti Display Picture (DP) BBM, di foto itu ada tulisan kalau dia sanguinis koleris. Sebenarnya dari awal dosen gue menyebut teman gue sanguinis dan teman gue mengiyakan bahwa dia memang sanguinis, gue udah kepo, Kok dia bisa tahu ya? Dia tahu dari mana?. Semenjak saat itulah gue jadi kepikiran untuk googling Bagaimana cara mengetahui bahwa gue adalah salah satu dari empat tipe di atas.
Akhirnya gue masuk di blog yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan mengetahui kita tipe apa. Buat yang kepo juga sama kepribadiaannya, kalian bisa ikutin kuis ini.
Dari sekian banyak pertanyaan, gue akhirnya tahu bahwa gue adalah MELANKOLIS.
Iya, si Perfeksionis (katanya…..Google). Yeah, to be honest, kalau harus jujur, jujuuuuur banget gue kurang setuju sama gelar yang harus disandang si melankolis ini. Ya lo tau lah….kesempurnaan hanya milik Allah. Paling banter ya nyerempet sempurna. Nah itu baru kita, melankolis. Hehehe
Ketika gue tahu bahwa gue melankolis, jujur gue senang. Karena akhirnya gue jadi lebih mengetahui lebih banyak tentang diri gue. Walaupun ulasan melankolis sepenuhnya bukan gue banget. Sepertinya ada salah satu dari tiga tipe lainnya yang memanggil gue buat memiliki tiga sifat yang lain. Tapi entahlah gue masih belum tahu.
Ayo dong bahas melankolisnya, Put!
Baiklah.
Kalau kalian mau tahu tentang melankolisnya, kalian bisa googling. Di sana banyak banget artikel tentang melankolis dan kalian bisa tahu dari sana. Tapi gue mau tanya sama kalian, ada nggak sih yang merasa risih sama kepribadian kita yang satu ini (buat yang melankolis)? Jujur, gue terkadang sangat amat tersiksa harus menjadi orang yang perasa dan pemikir. Ngelakuin ini takut salah, ngomong gini takut nyinggung perasaan orang lain, kalau gue gini nanti…., kira-kira dia kayak yang gue pikirin nggak ya…., kok gue….?, dan bla bla bla.
Ada nggak yang kayak gitu? GUE?? GUE GITU BANGET!!! Sampai akhirnya kadang gue bingung gue harus bagaimana menghadapi bertubi-tubi pertanyaan yang sangat mengganggu ini. Gue nggak tahu melankolis yang lain gini juga atau enggak. (Kalian bisa share di comment box dan bisa berbagi solusi juga :D) Gue butuh banget cara buat menghadapi diri sendiri di bagian melankolis yang satu ini ya, teman-teman hehe.
Google bilang melankolis itu bagus di organisasi. Iya, gue pribadi memang suka berorganisasi. Si melankolis ini dibilang perfeksionis tapi jangan letakkan mereka di posisi yang paling penting dalam organisasi misalnya ketua. YAP!! BENER BANGET!!! Jujur, gue sangat amat tidak menyukai posisi sebagai ketua. Google bilang lagi, keperfeksionisan melankolis terkadang menjebak mereka sendiri (Beneeeeer!!!) oleh sebab itu, mereka lebih cocok ditempatkan sebagai wakil atau posisi penting lainnya karena mereka akan sangat berguna dengan posisi mereka tersebut. (Setuju!) Kalau kalian bukan melankolis kalian mungkin akan mikir, ih sok banget, maunya ditaro di posisi penting! Emang lo siapa hello~ tapi….kalau lo melankolis, lo bakal tahu rasanya dan emang gini cara kita hidup. Kita harus diperhatikan dan gini cara kita berdedikasi di hidup kita. (Asyik, beraaat!~)
Google bilang banyak banget, gue nggak hafal tetapi melankolis ini sangat amat membutuhkan perhatian dan dukungan. Mereka akan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan baik kalau mereka mendapatkan perhatian dan dukungan. Itu yang sangat gue rasakan. Kalau mereka dilupakan, mereka bakalan down. Gue gitu. Kalian gitu juga nggak? Hehehe
Ini terlihat waktu gue addict blogging. Awal gue blogging dulu karena guru Kimia gue bilang gue harus menulis sebanyak-banyaknya kalau gue memang ingin menjadi seorang penulis. Sejak saat itu gue memutuskan untuk membuat blog dan aktif di dalamnya (Saking aktifnya, gue pernah alay dalam mengelola blog gue -_- gue pernah pasang Mixpod--musik background blog, efek salju turun, tulisan yang ngikutin mouse, dll -__- gue sadar betul waktu itu gue alay. Sekarang? Gue nggak tahu sekarang kata apa yang melebihi alay zzz). Oke, back to topic~
Lalu muncul postingan tiap hari dan tiap bulan. Gue rajin share link blog gue di manapun, kapanpun, dan sama siapapun. Sampai teman-teman gue mengadu tentang kesan mereka karena udah baca blog gue. Saat itu gue sangat merasa diperhatikan dan sangat amat merasa karya gue diapresiasi positif, ini sangat memacu gue untuk membuat lebih banyak lagi. Akhirnya gue posting sebanyak mungkin dan jadi lebih baik hari ke harinya.
Tapi kemudian ketika gue sudah nggak lagi dalam keadaan yang sama, gue kehilangan segalanya. Waktu itu gue lulus dan harus masuk kuliah. Lingkungan yang berbeda membuat gue udah nggak bisa melakukan hal yang dulu gue tekuni. Gue harus beradaptasi pada lingkungan yang baru dan gue sulit untuk mengimbangi hal yang udah gue putuskan untuk gue selesaikan. Well, melankolis orangnya fokus sama satu kegiatan. Kalau udah mulai, dia akan menyelesaikan hal itu sampai tuntas baru mulai yang baru lagi.
Nah keadaan sekarang membuat gue harus menyelesaikan kuliah gue dulu, kalaupun memang gue bisa blogging, gue akan sesekali aja melakukannya, nggak se-addict dulu lagi. Pertanyaannya, kenapa sih sampai segitunya padahal cuma blogging? Seharusnya bisa lah disambi? Sekali lagi, menurut gue semua pekerjaan butuh fokusnya masing-masing meskipun hal itu kecil. Melankolis nggak bisa menganggap enteng hal yang kecil. Kadang hal yang kecil bisa jadi buah pikiran yang memang berpotensi mengganggu makan si melankolis karena mereka pemikir. Begitulah melankolis.
                Kalau kalian baca melankolis itu analitis, serius dan bertujuan (Gue sih yes, nggak tahu kalau Mas Anang~ Gue iya, tapi nggak sepenuhnya serius. Adakalanya bercanda dan melankolis butuh itu supaya hidupnya ceria), sensitif, mau mengorbankan diri, puas di belakang layar, dan mau mendengar keluhan…………..yaaaaaa itu gue banget! Tapi kalau melankolis dibilang punya standar yang tinggi, iya sih, tapi menurut gue sekali lagi ini perlu disanggah. Gue rasa semua orang butuh itu untuk kehidupan yang lebih baik. Well, lo mau berhasil tapi standar lo standar-standar aja, ya mana bisa lo berhasil dan ada di puncak?? Kan, nggak mungkin. Lagi pula kalau lo dari 10-100 lo cuman nargetin 80, apa nggak terpikir, kalau lo nargetin 100, kalau lo jatuh, ya nggak jauh dari 100. Kalau lo nargetin 80 tapi lo cuman dapet 75? Yah, nyesek. Kalau 100, jatuhnya 90. Kan masih keren? :D (Kan nyerempet sempurna :D Melankolisnya lagi keluar……! :D)
Kata Google, melankolis cenderung melihat masalah dari sisi negatif, mengingat yang negatif, dan pendendam. Gue nggak tahu hal ini bisa diubah atau enggak. Jujur ini gue banget, gue udah berusaha untuk nggak gini tapi……gimana dong? Susah. Maaf aja sama orang yang udah pernah nyakitin hati melankolis. Gue pribadi jujur nggak suka sama sifat yang kayak gini, tapi susah untuk dihilangkan dan buat yang udah nyakitin hati mereka, siap-siap untuk diingat sebagai orang yang negatif. Gue emang bisa seperti biasanya (meskipun sangat sulit) tapi gue nggak akan pernah lupa sama luka yang pernah gue dapat dan maaf sekali lagi, melankolis pendendam.
Begitulah semua sifat melankolis. Buanyaaak!! Seperti yang sudah gue katakan, kalian bisa googling sendiri informasi lengkapnya.
Terus gimana dengan sanguinis, plegmatis, dan koleris?
Gue belum tahu banyak mengenai tiga tipe itu, tapi mungkin lain kali akan gue bahas.
Daaaaan terlepas dari sifat negatif dari melankolis yang sudah gue katakan, gue hanya ingin mengungkapkan bahwa nggak ada pribadi yang sempurna. Melankolis sadar betul akan hal itu, kita juga semua tahu. Nggak ada yang betul-betul sempurna bahkan jika kita bergabung (sanguinis, plegmatis, dan koleris). Kesempurnaan hanya milik Tuhan. Dan yaaah, makasih udah baca ulasan tentang melankolis. Lain kali mungkin gue bisa bahas lebih banyak tentang watak gue ini. Makasih sekali lagi, bye!

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harapan dan Kesan Kuliah di Kampus Diploma IPB

Penulis? *tsah!

Cerita di Balik Pemilihan Jurusan Kuliah