Ibarat Gayung Bersambut

Sore ini gue sedang mendapat pencerahan mengenai ungkapan "Gayung Bersambut". Ketika mencintai seseorang, gayung bersambut berarti cinta yang berbalas. Ketika menjalin pertemanan, gayung bersambut berarti doi juga mau berteman dengan lo, jadi doi nggak akan ngomongin lo di belakang. Hehehe dan ketika bokap atau nyokap lo menyuruh lo melakukan sesuatu untuk bantu beliau di rumah, gayung bersambut berarti lo menyahuti mereka dengan bilang, "Oke bu/pak/dad/mom/pi/mi, siap laksanakan!!" Begitulah arti sederhana dari ungkapan gayung bersambut. Ya Tuhan, sederhana aja ada tiga contoh, gimana versi komplikasi nya? Hehehe, ya, kamu betul, ada banyak contoh dan implemennya dalam kehidupan nyata. :D

Karena gue sekarang sudah bekerja, gue akan banyak membicarakan implementasi ke dalam dunia kerja. Disimak dengan baik ya :)



Kalau ada yang bilang dunia kerja itu keras, betul. Gue baru merasakan itu sekarang, setidaknya setelah enam bulan gue bekerja. Kerasnya bukan berarti lo di-bully kayak kasus anak sekolah, tapi keras akan tuntutan pekerjaan. Kalau pandangan lo ketika bekerja adalah berhenti belajar, LO SALAH BESAR. Nggak hanya salahnya yang besar, tulisannya juga besar :p
Justru ketika lo kerja, lo harus banyak belajar, bedanya dengan sekolah, implementasi yang lo pelajari entah kapan, tetapi ketika lo bekerja, implementasinya bisa langsung lo lakukan. Harusnya sih lebih seru, karena lo nggak akan lupa dengan langsung melakukan penerapan apa yang lo pelajari ke pekerjaan lo, tapi mengapa lo malas untuk belajar ketika lo sudah bekerja? Hayo ngaku...
Put, jadi apa hubungannya dengan Gayung Bersambut tuh satu paragraf di atas??


Hubungannya adalahhhh, belajar itu nggak harus dari lo yang mengikuti kelas seminar, dll (di mana ada guru dan ada murid). Tapi bisa juga dengan diskusi atau ada orang yang lebih tahu dan memberi tahu orang yang belum tahu. Wkwkwk jangan bingung ya?
Belajar tuh, sesederhana ituuuu.... Dan ketika lo ada di posisi orang yang belum tahu, lo terapkan lah prinsip Gayung Bersambut seperti yang sudah kita bahas dari awal, jangan memberikan sikap penolakan lo malas untuk belajar seperti yang gue paparkan di paragraf kedua. Paham ya?
Tapi gimana nerapin gayung bersambutnya, Put?
Bisa dengan lo yang memberikan jawaban dengan nada yang ceria, "Oh, begitu ya Mas/Mbak, oke deh, siap, makasih ya, Mas/Mbak. Iya nih aku belum tahu, aku kira begini/begitu, ternyata bukan ya. Oke deh, nanti aku terapin yang barusan Mas/Mbak kasih."
Bukan malah sebaliknya, ngasih sikap acuh. -_-


Ibarat gayung bersambut, tapi disambut baik lho yaa mindset-nya, lo pasti bahagia kan kalau cinta lo diberikan respon seperti itu, karena ternyata nggak hanya lo yang suka dengan doi, tapi doi juga suka sama lo... Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan, Parjo? :p
Ibarat Gayung Bersambut, ketika lo minta tolong sama orang, dan orang tersebut dengan suka rela mau menolong lo, lo pasti akan sangat berterima kasih kepada orang tersebut, lo nggak akan pernah melupakan kebaikan dia... :))
Ibarat Gayung Bersambut, atasan lo atau orang yang berdiskusi dengan lo pasti senang dan akan sangat menghargai lo apabila lo memberikan respon "welcome" dengan apa yang mereka sampaikan. Lo juga akan diberikan kepercayaan lebih dari orang tersebut, dan efek jangka panjangnya panjang banget, lebih panjang dari kemacetan di Jakarta :))


Gimana, positif banget kan gayung bersambut? Sesederhana itu... Ya, semua yang lo lakukan, efeknya juga akan kembali ke lo kan? Kalau kamu mau membahagiakan orang lain, cukup wujudkan ungkapan "gayung bersambut". Semoga kamu diberikan kebahagiaan yang sangat amat membahagiakan ya dari Tuhan. Aamiin. Ciao!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Harapan dan Kesan Kuliah di Kampus Diploma IPB

Penulis? *tsah!

Cerita di Balik Pemilihan Jurusan Kuliah